Perkuat Peran Ayah Lewat GATI untuk Wujudkan Kemerdekaan Keluarga

Memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menggelar Senam Bersama dan Lomba Senam Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) di Lapangan Parkir Halim 1, Jakarta, Jumat (15/8/2025).

Kegiatan ini diikuti ratusan aparatur sipil negara (ASN), keluarga, dan masyarakat. Suasana penuh semangat dan kebersamaan menjadi ciri khas acara yang mengedepankan penguatan peran ayah dalam pengasuhan anak.

Prof. Budi Setiyono, S.Sos, M.Pol.Admin, Ph.D, Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN, menekankan pentingnya momentum kemerdekaan sebagai momen untuk menumbuhkan kesadaran kolektif tentang peran ayah dalam keluarga.

“Perayaan kemerdekaan bukan hanya tentang nasionalisme, tetapi juga tentang membangun keluarga yang merdeka dan berkualitas. Ayah yang hadir secara penuh adalah fondasi kemerdekaan keluarga,” ujarnya.

Prof. Budi mengingatkan agar di tengah perubahan yang cepat di bidang sosial dan teknologi sekarang ini, peran ayah jangan sampai tergantikan oleh gudget dan handphone. “Jangan sampai pengaruh ayah terhadap anak digantikan oleh informasi dari handphone yang belum tentu sesuai dengan norma sosial dan agama” ujar Budi.

Terlebih, berdasarkan data UNICEF tahun 2021, sekitar 20,9% anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah, baik akibat perceraian, kematian, maupun pekerjaan yang memisahkan jarak.

Survei BPS pada tahun yang sama mencatat hanya 37,17% anak usia 0–5 tahun yang dibesarkan oleh kedua orang tua secara bersamaan. Fenomena ini menunjukkan ketimpangan peran pengasuhan, di mana ayah sering terhambat oleh beban pekerjaan, persepsi tradisional, maupun minimnya dukungan sosial.

GATI hadir sebagai upaya mendorong ayah agar terlibat aktif sebagai teladan, pembimbing, dan sumber rasa aman bagi anak. Konselor Ayah Lingkar Ayah Indonesia, Irwan Rinaldi, mengingatkan bahwa usia 7–15 tahun adalah masa emas pembentukan karakter anak.

“Ayah yang hadir secara emosional dan fisik adalah benteng pertama anak ketika menghadapi rasa takut, tantangan, dan godaan negatif,” tegasnya.

Lebih dari 60 persen anak yang terlibat perilaku berisiko berasal dari keluarga dengan keterlibatan ayah rendah, menurut data BPS dan sejumlah lembaga riset keluarga.

Hal ini menegaskan bahwa figur ayah memiliki peran yang tidak dapat digantikan oleh orang lain. Sehingga edukasi dan dukungan komunitas menjadi sangat penting.

•⁠ ⁠Anak Membutuhkan Ayah yang Hadir Secara Emosional

Musisi sekaligus aktivis keluarga, Yosi Mokalu dari Project Pop, berbagi pengalaman pribadinya sebagai ayah dua anak. Ia menekankan bahwa anak membutuhkan ayah yang hadir tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

“Ayah perlu berperan sebagai sahabat, mentor, dan pelindung,” ujarnya. Kehadiran ayah yang konsisten membentuk fondasi mental dan karakter anak sejak dini.

Rangkaian kegiatan GATI meliputi senam Fun Aero Mix, lomba Senam GATI, zumba party, dan pembagian hadiah. Tawa, tepuk tangan, dan sorak-sorai peserta menandai setiap sesi, menciptakan suasana penuh energi dan keakraban.

Momentum HUT ke-80 RI dijadikan inspirasi untuk menegaskan bahwa kemerdekaan bangsa dimulai dari keluarga yang kuat. “Kehadiran ayah yang aktif adalah wujud nyata dari semangat kemerdekaan—merdeka dari kesenjangan peran, merdeka dari stereotip, dan merdeka untuk membangun generasi berkualitas,” kata Prof. Budi.

Prof. Budi, mengajak seluruh peserta untuk membawa semangat GATI ke dalam kehidupan sehari-hari. “Kehadiran ayah adalah investasi terbesar untuk masa depan bangsa. Mari, kita mulai dari rumah kita masing-masing, sebagai wujud kemerdekaan keluarga,” pungkasnya.