Dalam menjalani peran ganda sebagai orang tua sekaligus pekerja, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Wamendukbangga/Waka BKKBN), Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, S.Sos, mengimbau para orang tua yang bekerja untuk kembali mempererat hubungan dengan anak remaja mereka, menguatkan kembali komunikasi karena tantangan yang dihadapi remaja saat ini sangat berat.
Hal ini disampaikan Wamendukbangga Isyana saat mewakili Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN membuka kegiatan Kelas Orang Tua Bersahaja (Bersahabat dengan Remaja) bertema “Merdeka dari Ruang Kerja ke Ruang Hati: Membangun Komunikasi yang Selaras antara Peran Sebagai ASN dan Orang Tua”.
Acara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia ini digelar secara hybrid di Auditorium Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, dan melalui Zoom dan Youtube kemendukbangga_bkkbn, Selasa (12/08/2025).
“Kita tahu bahwa pengasuhan remaja hari ini jauh lebih kompleks. Mereka hidup dalam dunia yang serba cepat, penuh tekanan, dan seringkali tidak bersahabat bagi kesehatan mental mereka. Dalam situasi seperti ini, anak-anak kita tidak cukup hanya didampingi secara fisik, mereka membutuhkan kita untuk hadir sebagai pendengar, pelindung, sekaligus teladan,” ujar Wamendukbangga Isyana.

• Gaya Komunikasi Yang Baik
Sebagai orang tua, Yosi Mokalu, figur publik yang menjadi narasumber dalam kegiatan ini menuturkan bahwa peran mendengarkan itu sangat penting, dan gaya komunikasi yang baik dengan anak adalah dengan memberikan pertanyaan. Sehingga anak akan menemukan jawabannya melalui pertanyaan yang diajukan orang tua.
Dari sisi anak pun menginginkan hal serupa. “Saya berharap didengar dengan baik, orang tua jangan cepat menghakimi ataupun memotong ucapan,” harap Aisha Tiara, siswi SMK Negeri 63 Jakarta Selatan, salah satu narasumber.
Konselor Johana Rosalina K, Ph.D turut menyampaikan bahwa komunikasi yang selaras antara orang tua dan remaja dapat terbangun saat orang tua menerapkan pola asuh membangun harga diri anak, yakni menjadi orang tua dengan pola asuh demokratis, dengan membiasakan pertemuan keluarga, berbincang bersama, berlibur bersama, dan berdoa bersama.

Pola komunikasi membangun harga diri anak pun dapat diterapkan dengan setop mengkritik, memberikan masukan dan murah hati dengan pujian.
Wamendukbangga Isyana pun mengutarakan, “Saya berharap kegiatan ini menjadi gerakan yang bertumbuh membentuk ekosistem kerja yang selaras dengan nilai-nilai keluarga, memperkuat peran orang tua untuk membentuk remaja yang tangguh dan sekaligus sebagai Aparatur Sipil Negara yang berkinerja dengan menyeimbangkan semangat pengabdian dan kehangatan keluarga.
