Dari Rumah ke Rumah, GENTING Menguatkan Asa Keluarga

Pagi di Kecamatan Sekupang, Kota Batam. Langit cerah ketika rombongan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (Kemendukbangga/BKKBN) melangkah memasuki permukiman warga. Bukan untuk seremoni. Bukan pula kunjungan formal belaka.

Mereka datang membawa satu misi mulia yang menyentuh kehidupan hakiki keluarga. Dari rumah ke rumah mereka memastikan beberapa anak di Kepulauan Riau tumbuh dengan gizi yang layak dan kesempatan yang setara. Mereka memastikan anak-anak itu terbebas dari stunting.

Sesungguhnya, angka stunting di Provinsi Kepulauan Riau telah turun menjadi 15 persen pada 2024, terendah di wilayah Sumatera dan masuk jajaran terbaik di Indonesia. Namun capaian ini bukan alasan berpuas diri. Justru di titik inilah upaya menurunkan angka stunting menjadi prioritas yang semakin mendesak.

Tentu ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo yang menempatkan peningkatan kualitas hidup rakyat sebagai agenda besar pembangunan nasional. Melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Kemendukbangga/BKKBN mewujud gotong royong baru berupa kesadaran bahwa masa depan generasi emas Indonesia dimulai dari keberpihakan pada anak-anak hari ini.

Bersama tim Direktorat Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan, Perwakilan BKKBN Provinsi Kepulauan Riau, dan Perwakilan Rumah Zakat Kepri, rombongan itu membawa paket bantuan, beberapa hari lalu. Mereka disambut para kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) Kecamatan Sekupang yang mengenal dengan benar setiap kondisi keluarga, setiap kebutuhan, dan setiap cerita perjuangan di lapangan.

Rumah pertama yang dikunjungi berada di Perumahan Gresia, Kelurahan Tanjung Riau. Di depan pintu, tampak M. Ghaisan, balita 20 bulan, menyambut dengan tatapan malu-malu, seakan bingung dengan kedatangan rombongan yang memenuhi halaman rumahnya. Sri, kader TPK yang mendampingi keluarga ini sejak awal, kemudian membagikan ceritanya.

Menurutnya, Ghaisan dulunya adalah baduta (bayi di bawah dua tahun) yang sering menjadi contoh anak sehat di posyandu Harapan Kita, Kelurahan Tanjung Riau. Namun kondisi berubah ketika ibunya kembali hamil dalam jarak yang terlalu dekat disertai kondisi mabuk hebat yang membuat sang ibu kesulitan makan dan beraktivitas normal.

Dampaknya terasa langsung pada Ghaisan: pola asuh terganggu, asupan makanan tidak seoptimal sebelumnya, hingga pertumbuhannya menurun drastis dan masuk kategori berisiko stunting. Pada 14 Agustus 2025 berat badannya diangka 6,4 kg dan tinggi 75cm.

Kini, adiknya yang baru berusia satu bulan juga menunjukkan tinggi badan yang tergolong pendek untuk usianya. Situasi ini membuat pendampingan menjadi semakin penting, karena dua anak dalam satu keluarga harus dikejar tumbuh kembangnya secara bersamaan. “Selain jaraknya terlalu rapat, Bu Mulyani juga sudah memiliki empat anak. Itu artinya terlalu banyak, selain itu kedua kakaknya juga masuk dalam kategori stunting,” tutur Sri pelan.

Sebelumnya, bu Mulyani belum mendapat izin dari suami untuk mengikuti program KB. Namun dengan ketekunan para kader memberikan edukasi dari waktu ke waktu, akhirnya ia beralih ke IUD sebagai metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP), sebuah langkah penting untuk menjaga kesehatan dirinya dan anak-anaknya.

Kunjungan kali ini menandai bulan keempat Ghaisan menerima bantuan GENTING. Upaya pendampingan itu mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sejak 25 November, perkembangan Ghaisan terlihat sangat baik dengan berat badan meningkat menjadi 9,2 kg dengan tinggi 76 cm.

Perkembangan positif ini semakin diperkuat dengan masuknya Ghaisan ke dalam sasaran penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kategori baduta non-PAUD. Dukungan gizi yang konsisten inilah yang diharapkan mampu mempercepat perbaikan status kesehatannya, sehingga Ghaisan dapat segera lepas dari risiko stunting.

•⁠ ⁠Tatapan Penuh Harap

Dari rumah kecil Ghaisan, rombongan bergerak menuju Kampung Indavcon di Kelurahan Sungai Harapan. Di sinilah Yatmin, seorang ibu menyusui, menyambut tim dengan tatapan penuh harap. Kondisinya yang mengalami Kurang Energi Kronis (KEK), dengan Lila (Lingkar Lengan Atas) hanya 21 cm, menjadikannya sasaran prioritas. Bantuan pangan bergizi yang diterimanya bukan sekadar paket; itu adalah dukungan nyata bagi seorang ibu yang sedang berjuang memastikan bayinya tumbuh lebih sehat dari hari ke hari.

Tak jauh dari situ, di sebuah rumah kecil, tim kembali disambut oleh keluarga Umar, balita 2 tahun 4 bulan yang tampak aktif sesekali mengulurkan tangan seolah ingin berinteraksi dengan rombongan yang datang. Pendampingan dan bantuan pangan yang diberikan kepada keluarganya menjadi bagian penting dari upaya memastikan nutrisi Umar terpenuhi dalam masa emas tumbuh kembangnya.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kepri, Rohina, M.Si, melalui keterangnya menjelaskan bahwa di setiap kunjungan, program GENTING tidak hanya penyaluran bantuan, melainkan wujud nyata hadirnya Kemendukbangga/BKKBN di tengah keluarga yang membutuhkan. GENTING membawa lebih dari paket pangan. Ia membawa pendampingan, perhatian, dan keyakinan bahwa setiap anak di Kepri berhak tumbuh dengan kesempatan yang sama.

Dari Ghaisan yang perlahan mulai menunjukkan pemulihan, dari ketegaran Yatmin menjaga kesehatan diri dan bayinya, hingga keceriaan Umar, program GENTING menghadirkan harapan bahwa stunting di Kepri dapat terus ditekan hingga mencapai angka terendah. Pada akhirnya, keberhasilan menurunkan stunting tidak hanya tercatat dalam persentase, tetapi terwujud dalam anak-anak yang tumbuh lebih sehat, lebih kuat, dan lebih percaya diri menghadapi masa depan.