Saat Remaja Mencari Jati Diri, Keluarga Hadir Jadi Benteng Radikalisme dan Terorisme

edakan bom di SMK 72 Jakarta beberapa waktu lalu menjadi pengingat bahwa remaja kini telah menjadi sasaran ideologi ekstrem, sekaligus menegaskan pentingnya kewaspadaan bersama. Keluarga, khususnya orang tua, menjadi garda terdepan dalam membentengi anak-anak dari pengaruh paham radikal yang terus berkembang.

Direktur Bina Ketahanan Remaja, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Dr. Edi Setiawan, S.Si, M.Sc, MSE, mengatakan, “Kejadian di SMK 72 Jakarta itu menjadi bukti bahwa faham radikalisme telah merasuki anak dan remaja di Indonesia, dan kelas hari ini diharapkan menjadi insight bagaimana menangkal faham tersebut.”

Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menyelenggarakan Kelas Orang Tua Bersahaja (Bersahabat dengan Remaja) Angkatan II bertajuk “Orang Tua Bersahabat Remaja Kritis: Benteng Keluarga dari Radikalisme dan Terorisme”. Kegiatan ini dilaksanakan Selasa (23/12/2025) secara daring dan dapat diakses di kanal youtube kemendukbangga_bkkbn.

Dalam paparannya, Haris Fatwa Dinal Maula, S.Ag., M.A, Analis Kebijakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mengungkapkan bahwa ancaman terorisme dan radikalisme masih nyata di Indonesia sepanjang tahun 2025. Tercatat sebanyak 10 penangkapan terkait terorisme, dengan pola ancaman yang tidak selalu berupa aksi anarkis, tetapi berkembang secara masif melalui perekrutan dan penyebaran konten di media sosial. Sejak Januari hingga Agustus 2025, tercatat 6.402 konten bermuatan radikalisme dan terorisme yang beredar di ruang digital. “Generasi muda jadi target utama karena faktor kebutuhan validasi atau pengakuan untuk berdaya,” ujarnya.

Menguatkan paparan Haris dari perspektif psikologis, co-founder Rumah Dandelion, Binky Paramitha Iskandar, M.Psi, menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase krisis identitas dan kebingungan jati diri. Ketika fase ini dilalui dengan dukungan yang tepat, remaja akan memiliki identitas yang kuat. Namun sebaliknya, ketiadaan dukungan dapat menunda kedewasaan psikologis dan memicu kebingungan identitas, yang ditandai dengan kecenderungan berkelompok dan sikap intoleran terhadap perbedaan. “Remaja yang didengar tidak mudah direkrut, maka peran orang tua bersahabat dalam membentuk nalar kritis dan ketahanan remaja,” ungkapnya.

Oleh karena itu, peran orang tua yang bersahabat menjadi kunci dalam membentuk nalar kritis dan ketahanan remaja terhadap berbagai pengaruh negatif. Lebih lanjut, Binky menekankan pentingnya prinsip connection before correction dalam pola pengasuhan. “Sebelum memberikan koreksi atau nasihat, orang tua perlu membangun hubungan yang hangat dengan anak,” tuturnya.