Kemendukbangga/BKKBN Gelar Pra-Summit SAKINA 2025: Dorong Integrasi Keluarga, Pemerintah, Kampus dan Industri Hadapi Bonus Demografi

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menggelar Pra-Summit SAKINA 2025 sebagai forum awal membangun sinergi bersama pemerintah, keluarga, pendidikan tinggi, dan dunia industri dalam menyiapkan generasi muda menyongsong bonus demografi. Kegiatan ini berlangsung, Jumat (12/12/2025) di Ruang Command Center kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta.

Program SAKINA (SuperApps Keluarga Indonesia) merupakan bagian dari ekosistem harmoni digital nasional, dirancang untuk memperkuat fondasi keluarga serta menyiapkan generasi muda yang siap masa depan. Salah satu program unggulan yang diperkenalkan ialah SIAP Impact (Strategi Inovasi & Aksi Produktif untuk Generasi Impact).

Program SIAP Impact dirancang sebagai model pembangunan manusia muda secara holistik, menggabungkan life skills, kesehatan digital, ketahanan mental, kesiapan sosial, dan kesiapan berkeluarga. Semua ini didukung kerangka standar global seperti Positive Youth Development (PYD) dan OECD Youth Skills Framework. Program ini menyasar generasi muda, khususnya Gen Z pada usia produktif, terutama mahasiswa tingkat akhir atau pemuda usia produktif.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/ Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd, menggambarkan bahwa bangsa saat ini menghadapi gelombang peradaban baru yang kompleks. Perubahan gaya hidup generasi muda, khususnya Gen Z, menjadi salah satu isu yang kerap disorot.

Ia menyinggung fenomena childfree, efisiensi ekonomi personal, hingga pola kerja yang mudah berpindah. “Connecting digitalnya oke, tapi connecting sosialnya tidak. Banyak hal yang selesai lewat handphone,” ucapnya. Namun Menteri Wihaji menegaskan bahwa perubahan ini bukan untuk dikeluhkan, melainkan dipahami dan direspons dengan kebijakan berbasis ekosistem.

Salah satu konsultan Kemendukbangga/BKKBN, Fitrie Arianti, dalam paparan materinya menjelaskan bahwa Indonesia tengah berada pada fase penentuan arah bonus demografi. Data BPS menunjukkan bahwa 69,51 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif pada 2025 . Gen Z menjadi kelompok terbesar, mencapai 75 juta jiwa, yang akan menjadi penentu kualitas SDM pada 15–25 tahun mendatang.